Scroll untuk baca artikel
Berita

Idul Fitri 2026: Perbedaan Penetapan Kembali Terjadi, Masyarakat Diminta Tetap Jaga Harmoni

×

Idul Fitri 2026: Perbedaan Penetapan Kembali Terjadi, Masyarakat Diminta Tetap Jaga Harmoni

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, JEJAKPERISTIWA.CO.ID — Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada tahun 2026 kembali berpotensi menghadirkan perbedaan di Indonesia. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika penentuan awal bulan Hijriah yang telah berlangsung sejak lama.

Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), memiliki pendekatan berbeda dalam menetapkan awal bulan Syawal.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi dengan prinsip wujudul hilal. Berdasarkan metode ini, Idul Fitri 1447 H telah ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama mengedepankan metode rukyat atau pengamatan hilal secara langsung yang didukung dengan perhitungan hisab. Penetapan secara resmi biasanya menunggu hasil sidang isbat yang diselenggarakan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.

READ
Dandim 0822 Dan Prajurit Jajaran Hadiri Upacara dan Syukuran HUT Bhayangkara Ke-78

Berdasarkan data astronomi, ijtimak atau konjungsi bulan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026. Namun, posisi hilal saat matahari terbenam masih menjadi faktor penentu apakah sudah memenuhi kriteria visibilitas atau belum.

Apabila hilal belum memenuhi kriteria imkan rukyat, maka Idul Fitri berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sebaliknya, jika hilal memenuhi syarat atau berhasil teramati, maka ada kemungkinan perayaan Idul Fitri dapat berlangsung secara bersamaan pada Jumat, 20 Maret 2026.

READ
Perbaiki Jalan Desa Gunosari Tingkatkan Perekonomian Warga

Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari perwakilan organisasi masyarakat Islam, ahli astronomi, hingga instansi terkait. Keputusan sidang ini menjadi rujukan resmi bagi umat Islam di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mengacu pada kriteria MABIMS sebagai pedoman dalam menentukan awal bulan Hijriah. Kriteria ini mempertimbangkan aspek ketinggian hilal dan elongasi sebagai indikator kemungkinan terlihatnya hilal.

Perbedaan dalam penetapan hari raya merupakan hal yang dapat terjadi karena masing-masing metode memiliki dasar dan pendekatan yang berbeda. Para tokoh agama pun mengimbau masyarakat untuk menyikapi hal ini dengan bijak dan tidak menjadikannya sebagai sumber perpecahan.

READ
Teknologi Digital Memaksa Radio Harus Berinovasi dan Adaptif

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mampu menjaga suasana tetap kondusif meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan Idul Fitri. Nilai-nilai toleransi dan saling menghormati menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan tersebut.

Momentum Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi juga sebagai waktu untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

Dengan demikian, potensi perbedaan penetapan Idul Fitri 2026 diharapkan dapat disikapi secara dewasa. Masyarakat diimbau untuk mengikuti keputusan yang diyakini serta tetap menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.